Tampilkan postingan dengan label Psikologi Klinis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Klinis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

Musik Cara Terapi yang Baik

Mendengar musik atau bermain musik merupakan hal yang sangat populer dimasyarakat, namun tahu kah kita bahwa musik merupakan salah satu cara melakukan terapi. Menurut Dr. Djohan profesor psikologi musik di Institut Seni Indonesia (ISI), penelitian telah menunjukkan bahwa musik dapat meringankan berbagai keluhan dan gangguan seperti kecemasan, depresi, gangguan saraf, insomnia dan stroke, dan dapat mengurangi risiko infeksi, detak jantung dan kontrol tekanan darah. 
Terapi musik sangat penting untuk mempercepat proses penyembuhan dalam kondisi seperti itu, yang dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti menyanyi, bermain musik, membuat gerakan ritmis atau hanya mendengarkan musik,” kata dosen pascasarjana di Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta dan Universitas Negeri Semarang ini.
Secara historis, menurut pria penerima penghargaan Penggunaan Terapi Musik dari College of Music di Universitas Mahidol Bangkok, Thailand, pada 2009 ini, terapi musik sudah dikenal pada akhir abad ke-18, meskipun sebelumnya menjadi media penyembuhan di beberapa tempat seperti Cina, India, Yunani dan Italia. 
Di Amerika, terapi ini diterapkan untuk mengobati korban Perang Dunia I, terutama untuk mengatasi trauma yang mempengaruhi para veteran perang, bahkan para terapis musik sudah berafiliasi dalam sebuah organisasi American Music Therapy Association (AMTA),” kata Djohan, yang juga anggota dari Australia Musik dan Asosiasi Psikologi.  
 

Jenius dan Gangguan Jiwa Tidak Jauh Beda

Amerika Serikat, Gudang Psikologi - Banyak tokoh dunia yang terkenal dengan kejeniusanya mengalami gangguan jiwa. sebuah penelitan baru menemukan bahwa kedua hal tersebut salaing berhubungan. 
Dengan banyaknya tokoh dunia yang dikenal dengan kejeniusanya justru mengalami gangguan jiwa seperti Isac Newton, Ludwig van Beethoven, Edgar Allan Poe, dan John Nash ini menyebabkan banyak orang menganggap bahwa jenius tidak jauh beda dengan gangguan jiwa. 

Hasil penelitian baru yang menyebutkan hubungan keduanya, telah dibahas dalam sebuah acara 5th annual World Science Festival pada 31 Mei di New York, Amerika Serikat.
Salah satu panelis acara tersebut adalah Kay Redfield Jamison, psikolog klinis dan profesor dari Johns Hopkins University School of Medicine. Ia mengatakan, temuan ini mendukung bahwa banyak orang jenius yang justru mengalami siksaan psikis. Kreativitas bagi mereka terkait dengan gangguan suasana hati atau bipolar.
Sebuah penelitian lain yang diterbitkan tahun 2010 di Swedia pada 700.000 orang usia 16 tahun. Penelitian ini dilakukan untuk menguji kecerdasan peserta dan menindaklanjuti apakah 10 tahun berikutnya ada kemungkinan mengalami penyakit mental.
“Mereka menemukan bahwa orang yang unggul saat mereka berusia 16 tahun empat kali lebih mungkin untuk terus mengembangkan gangguan bipolar,” ungkap Jamison, seperti dilansir Livescience, Selasa (5/6).
Gangguan bipolar merupakan merupakan perubahan suasana hati yang ekstrem, terdiri dari episode kebahagiaan (mania) dan depresi. Kemudian bagaimana siklus ini dapat menciptakan kreativitas?
“Orang-orang dengan bipolar cenderung menjadi kreatif ketika mereka keluar dari depresi berat. Ketika suasana hati membaik, kegiatan otaknya pun bergeser. Aktivitas mati di bagian bawah otak yang disebut lobus frontal dan menyala di bagian yang lebih tinggi dari lobus,” jelas James Fallon, neurobiologis dari University of California-Irvine, yang ikut menjadi panelis.
Fallon menambahkan, hebatnya, pergeseran yang sama juga terjadi saat kreativitas terjadi dengan sangat tinggi pada otak manusia.
“Ada hubungan antar sirkuit yang terjadi antara bipolar dan kreativitas,” jelas Fallon.
Namun, tidak selamanya dorongan kreativitas muncul saat setelah depresi muncul. Kondisi gangguan kejiwaan juga dapat melemahkan atau bahkan mengancam hidup seseorang. (dtk/mba)

Senin, 06 Februari 2012

Waspadai HIV/AIDS di Kalangan Remaja

Kalangan pelajar menjadi perhatian khusus dalam mewaspadai tertularnya HIV AIDS. Ini mengapa remaja sebagai usia produktif mudah terpengaruh, sebab mereka masih mudah terpengaruh dalam pergaulan.

Tugurejo Paula Budi Suryaningsih, psikolog RSUD Tugurejo menyatakan hal yang sama. Remaja adalah usia yang rentan dalam penyebaran HIV/AIDS. Keingintahuan yang besar membuat remaja lebih mudah dalam terjerumus penggunaan barang haram seperti narkoba bahkan melakukan seks bebas.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Griya ASA PKBI, 97 dari seribu orang responden telah melakukan hubungan seksual.

Menurut Dr Dwi Yoga Yulianto, Manager Klinik Griya ASA PKBI dalam diskusi HIV/AIDS di Kampus Universitas Stikubank (Unisbank) Mugas, Kamis (21/7), jumlah pengguna HIV/AIDS di Jawa Tengah saja sudah menempati posisi ke tujuh dengan 1.030 kasus dan didominasi kaum perempuan sebanyak 62 persen sejak tahun 1993.

Sebagai solusi penanganan dan pencegahan penularan virus ini, maka cara yang efektif adalah dengan menghindari perilaku yang menjadi awal masuknya penyakit dapat tertular. Bukan hanya terjadi pada kalangan dewasa, namun ini sudah sangat meresahkan dengan mulai menyentuh kaum remaja dengan usia 15-20 tahun.

Diharapkan dengan banyaknya diskusi tentang HIV/AIDS dapat memberikan informasi agar mereka tidak menjadi korban virus ini dan berdampak pada kehidupan mereka.
sumber http://www.psikologizone.com/

Penyebab Remaja Merokok


Saat ini, sudah tidak asing lagi melihat remaja merokok. Perilaku merokok sudah dimulai pada masa anak-anak dan masa remaja. Hampir sebagian memahami akibat berbahaya dari merokok. Pertanyaanya, kenapa masih banyak diantara remaja ini tidak mencoba menghindari perilaku tersebut?

Sebuah penelitian telah dilakukan oleh Avin Fadilla Helmi dari Universitas Gadjah Mada dan Dian Komalasari dari Universitas Islam Indonesia dalam jurnal yang berjudul faktor-faktor penyebab perilaku merokok pada remaja.

Terdapat berbagai macam alasan yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja. Secara umum, perilaku merokok disebabkan faktor dalam diri juga disebabkan faktor lingkungan. Faktor dalam diri remaja dapat dilihat dari kajian perkembangan remaja, yaitu krisis psikososial dari Erikson yang mengatakan bahwa masa remaja adalah masa mencari jati dirinya.

Perilaku merokok merupakan simbol bahwa mereka telah matang, punya kekuatan, bisa menjadi pemimpin dan memiliki daya tarik pada lawan jenis. Adanya faktor kepuasan psikologi yang diperoleh dari merokok yaitu berupa keyakinan dan perasaan menyenangkan dapat membuat perilaku ini semakin kuat.

Faktor dari lingkungan adalah pihak-pihak yang berpengaruh besar dalam proses sosial. Proses ini meliputi transmisi nilai, kepercayaan, sikap dan perilaku yang diturunkan. Walaupun orangtua memiliki peranan dalam proses sosial, namun ada kelompok yang memiliki memiliki transmisi sosial secara horisontal yaitu teman sebaya.

Masa remaja adalah masa dimana mereka mulai memisahkan diri dari orangtua dan bergabung pada kelompok sebaya. Apalagi kebutuhan untuk diterima sering kali membuat remaja berbuat apa saja agar dapat diterima dalam kelompok dan bebas dari sebutan “pengecut” dan “banci”.

Bagaimana perilaku merokok ini dapat menular? Salah satu yang dapat menjelaskan adalah dengan teori social cognitive learning dari bandura. Teori ini menyatakan bahwa perilaku individu disebabkan oleh pengaruh lingkungan, individu dan kognitif. Jadi, perilaku merokok bukan hanya proses meniru, namun ada penguatan dari teman sebaya dan keluarga bila sama-sama merokok.

4 tahap perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu:

Tahap Preparatory, seorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.
Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang yang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok.
Tahap Becoming a Smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4 batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
Tahap Maintenance of Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self-regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

Avin Fadilla Helmi dan Dian Komalasari memberikan saran bagi orangtua menghindari anak tidak merokok:

Bagi orangtua yang menginginkan anaknya tidak merokok maka anggota keluarga tidak disarankan merokok atau tidak memberikan pengukuh positif ketika remaja merokok.
Teman sebaya memberikan kontribusi yang cukup besar kepada remaja untuk merokok, dalam hal ini jika orangtua tidak menginginkan anaknya merokok, maka orangtua perlu waspada pada kelompok sebaya anaknya.
Perilaku merokok lebih didasarkan atas pertimbangan emosional. Berkaitan dengan masalah tersebut upaya preventif maupun kuratif sebaiknya tidak menggunakan pendekatan kognitif seperti pemberian informasi bahaya atau dampak negatif merokok, tetapi sentuhan-sentuhan afeksional atau pendekatan emosi.
sumber http://www.psikologizone.com/

Berolahraga Mengurangi Kebiasaan Merokok


Riset dari University of Exeter mengungkapkan untuk pertama kalinya pada tahun 2009, bahwa perubahan dalam aktivitas otak yang dipicu oleh latihan fisik dapat membantu mengurangi ketagihan merokok.

Diterbitkan dalam jurnal Psychopharmacology oleh Kate Janse Van Rensburg PhD, studi ini menunjukkan bagaimana olahraga mengubah cara otak memproses informasi, sehingga mengurangi keinginan perokok terhadap nikotin. Untuk pertama kalinya, peneliti menggunakan pencitraan functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) untuk menyelidiki bagaimana otak memproses gambar rokok setelah olahraga.

Dikutip dari ScienceDaily (10/2/2009), penelitian ini menambah bobot tubuh semakin bertambah, bukti bahwa olahraga dapat membantu mengelola kecanduan zat nikotin dan lainnya. Ini mendukung temuan penelitian sebelumnya, yang telah menunjukkan bahwa olahraga secara signifikan dapat mengurangi ketagihan nikotin pada perokok.

Sepuluh perokok diminta untuk berolahraga selama sepuluh menit, setelah 15 jam tidak menghisap nikotin. Mereka kemudian diberi scan fMRI ketika mereka diperlihatkan 60 gambar rokok. Beberapa gambar rokok biasanya akan mendorong keinginan perokok untuk merokok. Pada kesempatan kedua, kelompok yang sama diberikan fMRI scan dan diperlihatkan gambar yang sama tanpa melakukan olahraga. Mereka juga diminta untuk melaporkan keinginan mereka terhadap nikotin.

Gambar otak yang ditangkap oleh fMRI menunjukkan perbedaan antara dua kelompok ini. Mereka yang berolahraga tidak menunjukkan aktivitas tinggi dalam menanggapi gambar yang berhubungan dengan rokok. Para perokok ini juga melaporkan adanya keinginan rendah untuk merokok setelah berolahraga dibandingkan dengan ketika mereka tidak melakukannya.

Para peneliti tidak tahu persis apa yang menyebabkan hal ini. Salah satu saran adalah bahwa berolahraga meningkatkan suasana hati (melalui peningkatan dopamine) yang mengurangi keinginan merokok. Kemungkinan lain adalah bahwa olahraga menyebabkan pergeseran dalam aliran darah ke area otak yang kurang terlibat dalam mengantisipasi kesenangan yang dihasilkan oleh gambar merokok.

Penelitian sebelumnya oleh University of Exeter telah menyarankan bahwa olahraga dapat mengurangi ketagihan nikotin. Hasil dari serangkaian studi menunjukkan bahwa ketagihan merokok akan berkurang setelah berolahraga. Studi ini menunjukkan bahwa olahraga telah terbukti menjadi solusi bagi mereka yang sulit berhenti merokok. Ini adalah penelitian pertama kali dengan menyelidiki aktivitas otak.

Ini dapat menjadi alternatif untuk mereka yang menggunakan obat farmasi untuk membantu berhenti dari rokok. Berolahraga dengan berjalan dan jogging sepuluh atau lima belas menit, dapat membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok. Tentu saja banyak manfaat lain dari gaya hidup yang lebih aktif, termasuk meningkatkan kebugaran fisik, penurunan berat badan dan perbaikan suasana hati
sunber http://www.psikologizone.com/

Henry Molaison, Manusia Tanpa Ingatan



Amerika Serikat, Psikologi Zone – Henry Molaison, yang dikenal oleh ribuan mahasiswa psikologi di Amerika Serikat sebagai “HM”. Ia mengalami hilang ingatan setelah dioperasi oleh sebuah rumah sakit di Hartford, pada bulan Agustus 1953. Pada saat itu ia berusia 27 tahun dan menderita serangan epilepsi.

Dikutip dari Psychology Today (16/1/12), dalam sebuah operasi, secara tidak sengaja dilakukan pengangkatan struktur otak yang biasa disebut dengan hippocampus milik Henry. Pada saat itu belum diketahui bahwa hippocampus sangat penting untuk menyimpan ingatan atau memori jangka panjang.

Jika seseorang kehilangan dua hippocampus pada sisi otak kanan dan kiri, maka akan terjadi global amnesia. Global amnesia adalah kehilangan kedua hippocampus, yang berarti tidak bisa belajar kata-kata baru, lupa siapa dirinya, berbicara dengan terbalik-balik, tidak tahu berapa umurnya, tidak tahu siapa orangtuanya, dan tidak pernah lagi mengingat dengan jelas sebuah acara, seperti pesta ulang tahun, atau siapa presiden saat itu.

Akhirnya, selama 55 tahun ia berpartisipasi dalam berbagai percobaan, terutama di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Namanya telah disebutkan di hampir 12.000 jurnal penelitian dan membuat dirinya sebagai kasus penelitian yang paling banyak dipelajari dalam sejarah medis dan psikologis.

Henry meninggal pada tanggal 2 Desember 2008, pada usia 82 tahun. Sampai saat itu, ia dikenal dunia hanya dengan inisial “HM”, tapi pada saat ia meninggal dunia, namanya terungkap. Inisial digunakan untuk melindungi identitasnya sebagai subjek penelitian.

Diketahui bahwa hilangnya ingatan Henry sangat kompleks. Ia kehilangan kedua hippocampus, namun masih memiliki intelligence di area non-memory. Ini membuat seolah dirinya berhenti hingga usia 16 tahun. Dia masih bisa mempertahankan kemampuan untuk belajar beberapa keterampilan motorik baru. Walaupun ia tidak pernah ingat ketika telah melakukan serangkaian uji penelitian berulang kali dengan tes yang sama.

Dia juga orang yang sangat bahagia dan ramah, selalu menyenangkan. Dia nampak tidak pernah bosan melakukan tes ingatan, yang dianggap sebagian orang membosankan. Pengetahuan dunia tentang penyakit otak dan cara kerja pikiran normal akan sangat kurang jika bukan karena kemurahan hati orang-orang seperti Henry dan keluarganya. Henry telah memberikan hadiah utama bagi perkembangan ilmu pengetahuan, baik dalam bidang psikologi, neuropsikologi, maupun psikiatri.

Kecerdasan Anak Berasal dari Orang Tua


Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris dan Skotlandia menyimpulkan orangtua mewariskan setengah kecerdasan pada anak. Inilah salah satu evolusi manusia yang luar biasa.
Orang tua mana yang tidak mengharapkan anaknya cerdas dan pintar? Hampir semua orang tua mengharapkan hal tersebut. Namun sadarkah para orang tua bahwa kecerdasan yang dimiliki anaknya juga berasal dari orang tuanya?
Penelitian yang ini merupakan hasil yang diperoleh dari 3.500 responden yang tinggal di Inggris dan Skotlandia. Para responden dianaliss untuk diselidiki setengah juta penanda genetik dan perubahan kecil yang terjadi pada DNA-nya. Peneliti juga memeriksa hasil penelitia dan tes kecerdasan, serta dilengkapi dengan data pendidikan para responden.
Penelitian ini menunjukkan bahwa 40 persen kecerdasan yang dimiliki anak termasuk jenis kecerdasan kristal, atau dikenal dengan istilah ilmiahnya crystallised-type intelligence. Kecerdasan kristal ini yakni kemampuan memperoleh pengetahuan dan keterampilan selama bertahun-tahun yang tersimpan dalam gen manusia.
Jenis kecerdasan lainnya yakni kecerdasan cair atau fluid-type intelligence. Kecerdasan cair ini yakni kemampuan bernalar dan berpikir abstrak yang bekerja dibawah tekanan perintah dari gen. Penelitian yang dipublikasikan melalui The Journal Molecular Psychiatry menyimpulkan bahwa, ada 51 persen kemampuan berpikir ‘outside the box’ (kemampuan berpikir keluar dari aturan) manusia, berada di bawah kekekuasaan gen.
Sebelumnya ada penelitian dari Peter Visscher yang bekerja di Queensland Institute of Medical Research, Australia. Penelitian Peter Visscher ini menghasilkan jawaban bahwa, banyak gen yang ikut peran pada kecerdasan anak.
Kepala penelitian Profesor Ian Deary dari University of Edinburgh menyebutkan banyak faktor yang terlibat dalam kecerdasan anak. Perbedaan pada kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu berkaitan sekali dengan faktor-faktor kehidupan. Misalnya berhubungan dengan pendidikan, pekerjaan, penghasilan, kesehatan dan faktor usia.
Walau pun begitu, Deary menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukannya secara tegas menyatakan sebagian besar perbedaan tingkat kecerdasan pada masing-masing individu lebih karena variasi genetik.
Keterbatasan materi tidak selalu menjadi pembatas tingkat intelektualitas seseorang. Boleh jadi kecerdasan yang dimilikinya merupakan hasil warisan dari kecerdasan orang tuanya. Penelitian ini juga menunjukkan perbedaan kecerdasan manusia dan simpanse, meski secara genetik sama.
sumber http://www.psikologizone.com

Kamis, 29 Desember 2011

Fungsi-fungsi Neurotransmitter dan Hubunganya dengan Perilaku Abnormal

Faktor-faktor seperti gangguan dalam neurotransmiter dan abnormalitas atau kerusakan-kerusakan otak yang mendasar dikaitkan dengan berbagai gangguan psikologis. Untuk beberapa gangguan, seperti alzheimer, proses-proses biologis berperan secara langsung. Namun demikian, untuk berbagai gangguan lain penyebab yang tepat tidak diketahui. Pada kasus-kasus lain, seperti skizofrenia, faktor-faktor biologis, terutama genetis, tampaknya berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan permbuat stress dalam perkembangan gangguan (Nevid, J., Rathus S., Greene, B., 2003).

Dalam sumber yang sama dengan kajian sebelumnya disebutkan bahwa para peneliti telah menemukan hubungan antara faktor psikologis dan berbagai gangguan serta kondisi fisik. Para peneliti juga meneliti apakah kombinasi antara penanganan psikologis dan obat-obatan untuk berbagai masalah, di antaranya seperti depresi, gangguan kecemasan dan gangguan penyalahgunaan obat, mampu meningkatkan manfaat terapeutik dibandingkan hanya salah sati pendekatan yang dilakukan.

Berikut fungsi –fungsi neurotransmitter. Dan hubungannya dengan pola-pola perilaku abnormal.

Fungsi –fungsi Neurotransmitter dan Hubungannya dengan Pola-Pola Perilaku Abnormal.

Neurotransmiter

Fungsi

Hubungan dengan Perilaku Abnormal

Asetilkolin (Ach)

Mengendalikan kontraksi otot dan pembentukan ingatan

Jumlah yang kurang dari normal ditemukan pada pasien dengan penyakit Alzheimer

Dopamin

Mengatur kontraksi otot dan proses-proses mental yang meliputi belajar, ingatan dan emmosi

Penggunaan berlebihd dari dopamin di otak mungkin berperan dalam perkembangan skizofrenia

Norepinefrin

Proses-proses mental yang terlibat dalam belajar dan ingatan

Ketidakseimbanganya dikaitkan dengan gangguan mood seperti depresi

Serotonin

Pengatur kondisi mood, kepuasan dan tidur

Ketidakteraturan mungkin berperan dalam depresi dan gangguan makan


Cara Kerja Sistem Saraf


Sistem saraf terbuat dari sel-sel saraf yang disebut neuron. Neuron-neuron saling berkomunikasi satu sama lain atau menyalurkan “pesan”. Pesan-pesan tersebut bersumber dari peristiwa-peristiwa yang beragam rentangnya, mulai dari merasa gatal karena digigit, mengkoordinasikan suatu gambar pandangan dan otot-otot daro peseluncur, dalam kasus halusinasi mendengar atau melihat suatu yang sesungguhnya tidak ada.
Setiap neuron memiliki badan sel atau soma, dendrit-dendrit dan sebuah akson. Badan sel memuat nukleus sel dan memetabolisme oksigen untuk membawa hasil kerja dari sel. Benang-benang pendek yang disebut dendrit keluar dari badan sel untuk menerima pesan-pesan dari neuron di sampingnya. Setiap neuron memiliki satu akson yang keluar seperti batang dari badan sel. Akson-akson dapat memanjang hingga beberapa centi apabila menyampaikan sesuatu antara jari kaki dan tulang belakang. Akson-akson tersebut dapat bercabang dan tertuju dalam berbagai arah. Akson berakhir pada struktur percabangan kecil yang disebut dengan terminal. Tonjolan yang disebut knobs ditemukan ditemukan pada ujung terminal akson.
Neuron menyampaikan pesan dalam satu arah, dari dendrit atau badan sel sepanjang akson ke terminal akson. Pesan-pesan kemudian disampaikan dari knob terminal ke neuron-neuron lain, otot-otot atau kelenjar-kelenjar. Neuron memancarkan pesan ke neuron-neuron yang lain melalui substansi kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter mengakibatkan perubahan kimia pada neuron penerima, Perubahan-perubahan tersebut menyebabkan akson mengirimkan pesan dalam bentuk listrik. Persimpangan antara neuron pemancar dengan suatu neuron penerima disebut sinapsis. Neuron pemancar diistilahkan dengan prasinaptik.Neuron penerima disebut sebagai pascasinaptik. Sebuah sinapsis terdiri dari terminal akson dari neuron pembawa, dendrit dari neuron penerima, dan sebuah celah kecil berisi cairan antar keduanya yang disebut celah sinapstik. Pesan tidak meloncat ke celah sinapsis seperti kembang api. Namun, terminal akson melepaskan neurotranmitter ke arah seperti banyak kapal yang meluncur ke laut. Setiap jenis neurotransmitter memiliki struktur kimia yang berbeda, Setiap jenis hanya akan sesuai dengan satu jenis pelabuhan, atau tempat penerima, apda neuron penerima, Pikirkanlah analogi antara gembok dan kunci. Hanya kunci yang tepat (neurotransmitter) bekerja pada gembok menyebabkan neuron pascasinaptik meneruskan pesan. Sekali dilepaskan, beberapa molekul dari neurotransmitter mencapai tempat-tempat penerima neuron-neuron lain. Neurotransmitter yang “lepas” mungkin dipecah pada celah sinaptik oleh enzim-enzim atau diabsorbsi kembali oleh terminal akson (suatu proses yang disebut penyerapa kembali (reuptake) sehingga mencegah sel penerima terus terbakar.

Sistem Saraf Tepi


sistem saraf tepi terdiri dari dua bagian yaitu sistem saraf sadar (somatik) dan sistem saraf tak sadar (otonom).
    • saraf sadar (somatik)
    Saraf ini terdiri lagi menjadi dua bagian, yaitu saraf kranial dan saraf spinal. Saraf kranial merupakan sistem saraf yang keluar dari kepala (otak) dan bagian tubuh atas, sedang saraf spinal merupakan sistem saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang. Sistem saraf tepi terdiri dari 12 pasang saraf kranial dan 31 pasang saraf spinal. Saraf – saraf tersebut meneruskan impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, juga meneruskan impuls dari sistem saraf pusat ke semua otot-otot rangka dan kulit. Sistem saraf ini (somatik) bisa menghasilkan gerakan hanya di jaringan oto rangka.
    • saraf tak sadar (otonom)
    Sistem saraf otonom adalah bagian dari sistem saraf tepi yang mengatur kerja organ dalam, misalnya kelenjar keringat, otot perut, pembuluh darah, dan alat reproduksi. Sistem saraf otonom dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis. Pengaruh kedua sistem saraf tersebut terhadap kerja organ bersifat antagonis. Umumnya, rangsangan dari sistem saraf simpatis bersifat merangsang kerja organ. Hal tersebut disebabkan neurotransmitter saraf simpatis adalah noradrenalin, sedangkan neurotransmiter saraf parasimpatis adalah asetilkolin. Prinsip kerja saraf simpatis dan parasimpatis hanya berbeda pada organ pencernaan. Saraf simpatis menghambat kerja organ pencernaan, sedangkan saraf parasimpatis merangsang kerja organ pencernaan. Misalnya, saraf simpatis dapat meningkatkan denyut jantung, sedangkan saraf parasimpatis menurunkan denyut jantung.

Selasa, 27 Desember 2011

Sistem Saraf Pusat

Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (Medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninges. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut meningitis.
Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut.
1. Durameter; merupakan selaput yang kuat dan bersatu dengan tengkorak.
2. Araknoid; disebut demikian karena bentuknya seperti sarang labah-labah. Di dalamnya terdapat cairan serebrospinalis; semacam cairan limfa yang mengisi sela sela membran araknoid. Fungsi selaput araknoid adalah sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.
3. Piameter. Lapisan ini penuh dengan pembuluh darah dan sangat dekat dengan permukaan otak. Agaknya lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen dan nutrisi serta mengangkut bahan sisa metabolisme.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial yaitu:
1. Badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea)
2. Serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba)
3. Sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat.
Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih

Pengertian dan Bagian-Bagian Penyusun Sistem Saraf Manusia

Sistem saraf merupakan salah satu sistem dalam tubuh yang dapat berfungsi sebagai media komunikasi antar sel maupun organ dan dapat berfungsi sebagai pengendali berbagai sistem organ lain serta dapat pula memproduksi hormon (Singgih, 2003).
Sistem saraf tersusun atas dua tipe sel, yaitu neuron dan glia. Neuron adalah sel saraf yang berperan dalam penerusuran informasi antar neuron dan ke otot serta kelenjar. Neuron memiliki beragam ukuran, serta fungsi (Kalat, 2010). Menurut perkiraan, jumlah neuron yang ada di dalam otak orang dewasa kurang lebih adalah 100 miliar (R.W. Williams dan Herrup dalam Kalat 2010). Glia secara umum ukurannya lebih kecil daripada neuron, memiliki fungsi yang beragam, tetapi glia tidak meneruskan informasi dengan jarak yang sangat jauh. Kerja neuron dan glia “entah bagaimana” dapat menimbulkan begitu banyak ragam perilaku dan pengalaman. (Kalat, 2010).
Pada manusia, sistem saraf mulai terbentuk ketika embrio masih berumur 2 minggu (Kalat 2010). Berdasarkan struktur dan fungsinya, sistem saraf secara garis besar dapat dibagi dalam sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi (Singgih, 2003). Seperti yang telah disampaikan oleh Singgih (2003) bahwa sistem saraf manusia itu secara umum dibagi menjadi dua, yakni sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan medulla spinalis yang mempunyai beragam pusat dengan fungsi yang berbeda-beda. Sistem saraf tepi dan pusat bekerja secara sadar. Sebelumnya masuk ke bagian penyusunan sistem saraf, akan dipaparkan mengenai istilah yang sering digunakan dan fungsiya.
Neuron Sistem saraf terbuat dari sel-sel saraf yang disebut neuron. Neuron ini merupakan kesatuan struktural dan fungsional sistem saraf, dan terdiri atas badan sel, serabut-serabut saraf, dan selubungnya. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson. Badan sel saraf (soma) mengandung inti sel yang besar dan berbentuk seperti pembuluh dengan membran yang tipis. Inti sel (nucleus) mengandung satu anak inti (nucleolus) dan sitoplasma yang disebut neuroplasma. Serabut sel saraf terdiri atas dua macam, yaitu dendrite dan akson (neurit). Dendrit merupakan serabut saraf yang pendek, umumnya bercabang-cabang seperti pohon dengan bentuk dan ukuran berbeda-beda. Dendrit berfungsi menerima impuls yang dating dari ujung akson sel saraf lain ke badan sel saraf, sedangkan akson merupakan serabut saraf yang panjang dan umumnya tidak bercabang. Akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke kelenjar dan serabut otot. Akson biasanya sangat panjang, bisa mencapai ratusan sentimeter. Sebaliknya, dendrit pendek. Menurut struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu sel saraf sensoris, sel saraf penghubung dan sel saraf motoris. Struktur dan fungsi sel terangkum dalam tabel berikut (Jati, 2007: 180) Nama Struktur Fungsi Sel saraf sensoris Badan sel bergelombang membentuk ganglia Akson pendek sedangkan dendritnya panjang Dendrit berfungsi menerima rangsang dari reseptor, sedangkan aksomn mengirimkan rangsang ke sel saraf lain atau sistem saraf pusat Sel saraf penghubung Dendrit pendek dan aksonnya ada yang pendek dan ada yang panjang Menghubungkan sel saraf sensoris dan sel saraf motoris di sistem saraf pusat Sel saraf motoris Dendrit pendek dan aksonnya panjang Dendrit berfungsi menerima rangsang dari sel saraf lain sedangkan akson mengirim rangsang ke efektor berupa otot atau kelenjar Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang dibentuk oleh sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann merupakan sel glia utama pada sistem saraf perifer yang berfungsi membentuk selubung mielin. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang dapat mempercepat penghantaran impuls.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India